Curhatan Anak Sipil

Assalamualaikum

Alhamdulillah blog ini udah pulih lagi. Jadi aku masih bisa menyalurkan hobiku ke publik dengan tulisan-tulisan sesat ini. HAHAHA.

Oiya, aku mau cerita aja deh. Sekarang aku udah semester 2 di teknik sipil. Cepat banget ya? Gak kerasa? Kerasa banget kok sebenarnya. Kerasa banget pergi pagi pulang malamnya. Kerasa banget susah matakuliahnya. Mungkin ini efek ketidakikhlasan aku kali ya. Ngomongnya sih aku udah ikhlas ngejalani jurusan ini. Etapi ngeluh mulu tiap ada mata kuliah hitung-hitung. itu mah sama aje kagak ikhlas #huft

Kuliah disana tuh, ada nyaman dan gak nyamannya. Salah satu yang bikin aku betah disana yaitu UKMI Ar-Rahman. Aku udah belajar banyak disana. Jauh lebih banyak dan lebih paham daripada 21 sks yang aku jalani tiap minggu. Dan yang bikin aku gak nyaman terutama matematikanya (udah mencakup semua hal yang menghitung, termasuk mekanika). Aku emang benci matematika dari awal. Padahal di sipil ini hal itu yang paling penting. Ah, sudahlah.

Jarak rumah ke kampus juga salah satu yang buat aku gak betah buat lama-lama disana. Kalian pikir enak pagi-pagi bawa motor tanpa SIM sambil nenteng tas 10 kilo+gantungin tabung gambar selama hampir satu jam? Dan baru pulang jam 8 malam? Emangnya enak tiap hari sarapan asap? Mamam deh.

Koin dari Teman Masa Lalu (bagian 2)


“Di-Disa..” ucap Tita terbata-bata.

Sementara Disa hanya melihat kedua orang yang sekarang ada di depannya dengan tatapan tidak percaya. Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Ternyata benar kecurigaannya selama ini, bahwa Asta itu adalah Luki, sahabatnya di masa lalu. Dan juga, Tita, teman yang selama ini ia percaya, entah sejak kapan mulai membohonginya.
Disa melangkahkan kakinya dan menenteng sepedanya agar dapat segera pergi dari tempat itu. Asta yang tadinya hanya menatap sosok cewek yang masih dicintainya itu, mulai mengejar dan menghentikan langkahnya yang sudah agak jauh dari rumah Tita. Sementara, Tita hanya menunggu dan berharap Asta menjelaskan semuanya ke Disa.
“Disa! Tunggu!” Asta menghentikan langkahnya. Kali ini gadis itu tidak bisa menghindar lagi karena cowok itu sekarang tepat hadapannya seakan menghalangi jalannya. Asta diam, tidak tau harus menjelaskan dari mana. Disa hanya menundukkan kepala untuk menyembunyikan air matanya. Karena tidak sabar menunggu, ia mulai melangkahkan lagi kakinya.

Koin dari Teman Masa Lalu



Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun tampak terengah-engah karena berlari mendekati teman yang sudah sepuluh hari dikenalnya, sedang duduk di rumput pinggir sawah.
“Hei, hidung rata. Kamu kemana aja, sih? Kok lama banget?”
Perempuan yang dipanggil ‘hidung rata’ itu tampak mengerucutkan bibirnya setelah diejek oleh laki-laki yang diam-diam disukainya itu. Disa memang berhidung pesek atau lebih tepatnya berhidung kecil yang membuat kesan imut di wajahnya.
“Maaf, Luki. Tadi aku disuruh mamaku sebentar. Hehe.”
Luki merengut mendengar jawaban Disa, “Yaudah gak apa-apa. Duduk sini.” Katanya kemudian sambil menepuk tanah berumput di sebelahnya.
            “Ada apa sih? Kamu kok tumben manggil aku kesini? Sore-sore gini lagi.” tanya Disa penasaran. Luki hanya diam menanggapinya, kemudian mengeluarkan koin seratus rupiah dari saku celananya.
            “Sebelumnya kita main ‘Jujur-jujuran’ dulu. Seperti biasa, kamu yang lambang burung garuda, dan aku angka seratusnya.” jelas laki-laki yang ternyata diam-diam juga menyukai gadis berusia 7 tahun itu.
            Tiap kali bertemu, mereka selalu memainkan permainan yang mereka sebut ‘Jujur-jujuran’ itu. Cara bermainnya, salah satunya harus melempar koin lalu menangkapnya di punggung tangan. Yang pilihan sisi koinnya di atas itulah yang akan memberi pertanyaan, dan lawannya harus menjawab dengan jujur. Tentu saja, ini hanya bisa dimainkan oleh dua orang.
            “Oke. Setuju.” jawab Disa disertai anggukan dan cengiran khasnya.
           

Kehidupan Baru, Semangat Baru...



Kasian juga ya blog ini. Udah hampir setahun dianggurin. Huft~
Ada dua faktor kenapa aku gak ada posting setelah ulang tahunku beberapa bulan yang lalu. Pertama, blog ini sedang dalam renovasi (yaelah bro bahasanya) waktu itu. Jadi, demi menjaga ketentraman sang pembajak pembuat header blog(Imam ramzani), aku memutuskan untuk vacuum cleaner hingga blog ini benar-benar siap di isi kembali #tsaah #padahalemangmalasngeblog #PLAK

Nah, faktor yang terakhir inilah yang pengin aku ceritakan ke kalian. Muahahaha..uhuk..uhuk.. *keselek laptop*

Jadi, udah hal yang lazim bagi anak kelas 3 SMA yang baru tamat untuk mengikuti berbagai ujian masuk ke universitas yang diinginkan. Begitulah yang terjadi dengan aku dan beberapa ceman-ceman akoh. Masalahnya adalah, apa itu lazim? Entahlah, aku juga gak tau.

 

Copyright © Syifa-chan. Template created by Volverene from Templates Block
WP by Simply WP | Solitaire Online